Another New Year is only 3 days away! How’s y’all preparation so far, facing the new ‘beginning’ of your life? Have y’all made some plannings -good ones, offcourse- or you just play ‘just walk and see’? Hmmm… sounds familiar, right, especially for those who have no passion in running their life. And I certainly hope that you’re not one of them
Well, if last year I was writing about “how to make a next-year resolution”, at this upcoming next year, I will tell you about METAMORPHOSELF.
METAMORPHOSELF is my own terminology, actually (just think about it, should I put TM on it?) It refers to a condition, that we will change into something better. So, what’s the different between (regular) metamorphosis with METAMORPHOSELF? Well, this is the easier description. When we see how an itchy, disguisting cartepillar turns into a beautiful butterfly, we sometimes mis-see it and assume it as two different creatures. That is what we call metamorphosis. Well, such changing is too sophisticated (and too soap-opera) for us to adopt (unless those who are candidates of “Swan”
), so I try to simplify it into a simple, yet so cool, METAMORPHOSELF. In METAMORPHOSELF, I would like to ask y’all to together metamorphosize into someone new, someone better, but still, that someone is you.
Let’s say, if in previous life, you are fussy )ceriwis-miw), you don’t have to change yourself into someone calm, too calm that you can’t even say anything at all!!! Or if you were less-pretty, please don’t do some plastic surgery that makes you look like… someone not you, that not only people from your past, but YOU yourself, can’t even recognize your own reflection in the mirror!
That’s why, the key to do the METAMORPHOSELF is about recognizing the true yourself. Tentang mengenal diri sendiri. Mengenal kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan kita, untuk kemudian ‘meramu’nya menjadi sesuatu yang lebih baik. Istilah farmasinya, reformulasi. These are some ways of doing METAMORPHOSELF successfully.
Yang pertama, kita pilah-pilih yang mana kelebihan kita, dan yang mana kekurangan kita. Tulis aja di kertas biar lebih gampang. Jangan ragu untuk tanya orang tua, sodara, tetangga atau bahkan Pak Erte di tempat kita, untuk bantu memilah-milah. Karena kan, konon, kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara baik.
Setelah dipilah-pilah, lakukan seleksi. Sifat buruk kita yang kira-kira udah kebangetan, misalnya ’suka malakin anak SMP di perempatan’, atau sifat-sifat yang ngga penting-penting amat tapi menghabiskan energi, seperti ‘hobi menghitung jumlah semut berbaris untuk menganalisa bahwa dalam satu kerajaan semut ada berapa SSK (satuan setingkat kompi), ya sebaiknya dibuang saja. Karena segala yang kita lakukan adalah cerminan dari diri kita sendiri. Kalo kita sering melakukan hal-hal yang jahat, ya maka orang akan melihat diri kita jahat. Kalo kita sering melakukan hal-hal baik, orang akan melihat diri kita sebagai orang yang baik. Dan kalo kita sering melakukan hal-hal yang ngga penting, yaaa sori-sori aja, artinya elo emang NGGA PENTING! hehehe…
Nah, ibarat sampah, ada yang bisa dibuang, ada juga yang bisa didaur ulang. Begitu juga sifat kita. Yaaa, boleh lah buruk-buruk dikit, tapi siapa tau bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang baik? Misalnya, hobi memalak anak SMP tadi, alangkah baiknya jika disalurkan menjadi “hobi meminta sumbangan untuk korban bencana alam atau panti asuhan”. Dengan begitu, hobimu tersalurkan, dan kamu dapet pahala. Atau hobi menghitung semut berbaris, bisa disalurkan menjadi “hobi menjadi auditor negara yang menghitung aset-aset BUMN untuk melihat kebocoran dana di sana sini”. Halaahh… jadi susah banget ya? Ya pokoknya, selama bisa diarahkan menjadi sesuatu yang baik, kenapa ngga?
Nah, kalo yang buruk udah dicoret atau didaur ulang, kali ini kita lihat sifat-sifat baik kamu. Yang sudah sangat baik, ya dijaga supaya tetap cemerlang. Yang baik, ya di-improve supaya jadi lebih baik. Yang standar, ya di-kursus-in aja, supaya keluar sertifikatnya, hehehe. Intinya, jangan kelewat puas kalau kamu sudah terkenal sebagai “si cantik yang rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya”. Alangkah indahnya jika kamu lebih dikenal sebagai “si cantik yang bertutur kata lembut dan rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya kota Bandung, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya di Indonesia”.
Kembali ke teori METAMORPHOSELF, kayanya penjelasan di atas sudah cukup yah, untuk menggambarkan teori tersebut. Jadi, sebetulnya kita tidak harus menjadi orang lain jika kita mau berkembang menjadi orang yang lebih baik. Tidak musti ikut-ikutan orang kok. Alangkah cantiknya kalau kita bisa tetep jadi diri kita sendiri, dalam bentuk yang lebih baik.
Emang sulit jadi orang baik. Dan lebih sulit lagi, jadi orang yang bener-bener mau niat tulus, untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi, intinya kembali ke diri kita masing-masing. Cukup puas dengan kondisi sekarang? Jangan dulu lah… Di agama kita kan juga dibilang, orang yang beruntung adalah, orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, konon itu adalah orang yang merugi. Dan yang lebih buruk dari kemarin, waaahhh, cilaka!
Kalau itu mah namanya bukan METAMORPHOSELF, tapi malah METAMORPHOSUCK!
Happy new year Guys!!!