Archive for Ngembat dari FS

When We Say “I Do !”

(was written on my Friendster’s blog, Oct 17, 2005)

Tulisan ini gue mau dedikasikan buat seluruh wanita di Indonesia (terutama), di dunia (kalo bisa dan ngerti), dan yang terpenting untuk beberapa sahabat yang memberi inspirasi utk nulis artikel ini.

Semalam, entah sengaja ataupun ngga, gue nerima 3 berita sekaligus dari tiga orang sahabat, yang tentunya ngga mengenakkan hati. Berita pertama, adalah sahabat gue tercinta yang ada di luar negri, yang lagi berusaha setengah mati (sebenernya yang lebih berusaha setengah mati adalah gue dan neng otty karna nyoba ngerubah pola pikir sohib kita itu) untuk ninggalin ‘cinta mati’nya, tapi masih keliatan ragu-ragu banget. Ya wajar sih, namanya juga cinta mati. Siapapun pasti bisa ngerti, siapapun pasti bisa terima. Yang ngga bisa kita terima adalah kalo si cinta mati itu, alih-alih menganggap sobat kita cinta-matinya juga, malahan berkesan ‘mempermainkan’ perasaan sobat gue, dengan modus HTI (hmmm… sounds familiar, isnt it?). Tapi ya itu… kadang-kadang cinta mati bikin kita ga bisa liat kenyataan. Ngga bisa mikir lurus. (Well, wise man said that we can’t be smart and in love at the same time!) Read the rest of this entry »

Comments (1)

Kesetiaan yang Teruji

(judulnya sebetulnya kurang pas, but it was published on my friendster’s blog, february 25, 2006)

Apa yang kamu rasakan, saat orang yang paling kamu cinta, ternyata hanya pembohong belaka? Apa yang kamu rasakan, ketika orang yang paling kamu cinta, ternyata telah membohongi kamu bertahun-tahun lamanya? Apa yang kamu rasakan, ketika kamu bertanya kepada orang yang paling kamu cinta, ternyata tidak mencintaimu sebanyak cintamu padanya? Atau bahkan… mungkin tidak mencintaimu sama sekali?

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Metamorphoself!

Another New Year is only 3 days away! How’s y’all preparation so far, facing the new ‘beginning’ of your life? Have y’all made some plannings -good ones, offcourse- or you just play ‘just walk and see’? Hmmm… sounds familiar, right, especially for those who have no passion in running their life. And I certainly hope that you’re not one of them ;)

Well, if last year I was writing about “how to make a next-year resolution”, at this upcoming next year, I will tell you about METAMORPHOSELF.

METAMORPHOSELF is my own terminology, actually (just think about it, should I put TM on it?) It refers to a condition, that we will change into something better. So, what’s  the different between (regular) metamorphosis with METAMORPHOSELF? Well, this is the easier description. When we see how an itchy, disguisting cartepillar turns into a beautiful butterfly, we sometimes mis-see it and assume it as two different creatures. That is what we call metamorphosis. Well, such changing is too sophisticated (and too soap-opera) for us to adopt (unless those who are candidates of “Swan” :D ), so I try to simplify it into a simple, yet so cool, METAMORPHOSELF. In METAMORPHOSELF, I would like to ask y’all to together metamorphosize into someone new, someone better, but still, that someone is you.

Let’s say, if in previous life, you are fussy )ceriwis-miw), you don’t have to change yourself into someone calm, too calm that you can’t even say anything at all!!! Or if you were less-pretty, please don’t do some plastic surgery that makes you look like… someone not you, that not only people from your past, but YOU yourself, can’t even recognize your own reflection in the mirror!

That’s why, the key to do the METAMORPHOSELF is about recognizing the true yourself. Tentang mengenal diri sendiri. Mengenal kekurangan-kekurangan dan kelebihan-kelebihan kita, untuk kemudian ‘meramu’nya menjadi sesuatu yang lebih baik. Istilah farmasinya, reformulasi. These are some ways of doing METAMORPHOSELF successfully.

Yang pertama, kita pilah-pilih yang mana kelebihan kita, dan yang mana kekurangan kita. Tulis aja di kertas biar lebih gampang. Jangan ragu untuk tanya orang tua, sodara, tetangga atau bahkan  Pak Erte di tempat kita, untuk bantu memilah-milah. Karena kan, konon, kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara baik.

Setelah dipilah-pilah, lakukan seleksi. Sifat buruk kita yang kira-kira udah kebangetan, misalnya ’suka malakin anak SMP di perempatan’, atau sifat-sifat yang ngga penting-penting amat tapi menghabiskan energi, seperti ‘hobi menghitung jumlah semut berbaris untuk menganalisa bahwa dalam satu kerajaan semut ada berapa SSK (satuan setingkat kompi), ya sebaiknya dibuang saja. Karena segala yang kita lakukan adalah cerminan dari diri kita sendiri. Kalo kita sering melakukan hal-hal yang jahat, ya maka orang akan melihat diri kita jahat. Kalo kita sering melakukan hal-hal baik, orang akan melihat diri kita sebagai orang yang baik. Dan kalo kita sering melakukan hal-hal yang ngga penting, yaaa sori-sori aja, artinya elo emang NGGA PENTING! hehehe…

Nah, ibarat sampah, ada yang bisa dibuang, ada juga yang bisa didaur ulang. Begitu juga sifat kita. Yaaa, boleh lah buruk-buruk dikit, tapi siapa tau bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang baik? Misalnya, hobi memalak anak SMP tadi, alangkah baiknya jika disalurkan menjadi “hobi meminta sumbangan untuk korban bencana alam atau panti asuhan”. Dengan begitu, hobimu tersalurkan, dan kamu dapet pahala. Atau hobi menghitung semut berbaris, bisa disalurkan menjadi “hobi menjadi auditor negara yang menghitung aset-aset BUMN untuk melihat kebocoran dana di sana sini”. Halaahh… jadi susah banget ya? Ya pokoknya, selama bisa diarahkan menjadi sesuatu yang baik, kenapa ngga?

Nah, kalo yang buruk udah dicoret atau didaur ulang, kali ini kita lihat sifat-sifat baik kamu. Yang sudah sangat baik, ya dijaga supaya tetap cemerlang. Yang baik, ya di-improve supaya jadi lebih baik.  Yang standar, ya di-kursus-in aja, supaya keluar sertifikatnya, hehehe. Intinya, jangan kelewat puas kalau kamu sudah terkenal sebagai “si cantik yang rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya”. Alangkah indahnya jika kamu lebih dikenal sebagai “si cantik yang bertutur kata lembut dan rajin memberi santunan kepada pengemis di jalan raya kota Bandung, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya di Indonesia”.

Kembali ke teori METAMORPHOSELF, kayanya penjelasan di atas sudah cukup yah, untuk menggambarkan teori tersebut. Jadi, sebetulnya kita tidak harus menjadi orang lain jika kita mau berkembang menjadi orang yang lebih baik. Tidak musti ikut-ikutan orang kok. Alangkah cantiknya kalau kita bisa tetep jadi diri kita sendiri, dalam bentuk yang lebih baik.

Emang sulit jadi orang baik. Dan lebih sulit lagi, jadi orang yang bener-bener mau niat tulus, untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi, intinya kembali ke diri kita masing-masing. Cukup puas dengan kondisi sekarang? Jangan dulu lah… Di agama kita kan juga dibilang, orang yang beruntung adalah, orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, konon itu adalah orang yang merugi. Dan yang lebih buruk dari kemarin, waaahhh, cilaka!

Kalau itu mah namanya bukan METAMORPHOSELF, tapi malah METAMORPHOSUCK!

Happy new year Guys!!!

Comments (5)

Mules Berjamaah!

Ini kejadian aktual banget, soalnya baru terjadi setengah jam yang lalu.

Ceritanya saya, Unduk dan Mpiq makan siang jam 2-an tadi. Kita makan di warung chinese food (dibilang warung karena kecil, dibilang chinese food karena jelas-jelas yang jualan bukan orang Tegal!) langganan. Udah bisa masuk kategori langganan belom yah, karena saya udah sekitar 3 kali lah makan disitu. Dan saya seneng kesitu, soalnya selama 3 kali kunjungan, saya selalu pesan tumis genjer, tapi ngga pernah sama dapetnya. Yg pertama tumis genjernya berkuah tapi cawerang (bening/encer), trus kunjungan kedua, tumisnya tidak berkuah. Nah yang ketiga, tumisnya berkuah, tapi warnanya coklat! Jadi seakan-akan saya dapat menu baru terus, hehehe. Yang terpenting, makanannya enak, dan harganya pun matching sama kantong. Yah, toyib lah buat mulut, dan toyib buat kantong, walaupun kehalalannya belom terjamin, huehehehe…

Selesai makan, ceritanya Mpiq minta dianterin beli baju. ‘Buat bekel gaul ntar malem’ katanya. Ya udah, kita bertiga naek angkot ke Cihampelas. Pikiran saya, paling belinya ya baju-baju gaul, jadi angkot saya minta stop di depan Promenade, karena disitu ada distro clothing gitu. Belom masuk ke pintu distro, eh si Mpiq udah komen lagi, ‘Miw, gue mah mau beli kemeja…, yang resmi-resmi dewasa gituh. Ga bisa ke tempat ABG begini!’. Oalaaahhh, ye maap!!! Secara saya memang lupa, kalo umur saya dan Mpiq terpaut tiga ratus tujuh puluh taun!

Akhirnya kita berjalan ke arah Ciwalk. Udara dingiiinnn… banget, padahal masih jam setengah 3-an. Mungkin karena hujan rintik-rintik, dan berjalan menentang arah angin, jadi makin terasa dingin. Saya yang benci dingin mulai merasa tanda-tanda kelainan dari tubuh saya. Perut saya mulai membunyikan genderang perang, berontak berinteraksi dengan cuaca. Dan lama-lama, jadi mules gitu. Duh, gimana nih?

Baru lewat pertigaan (kira-kira depan ujung jalan Plesiran), saya langsung memberi isyarat ‘Timed Out!’. Perut saya kayanya bener-bener ngga bisa diajak kompromi. Wkatu saya bilang ke Unduk kalau saya pingin balik dulu ke warnet buat ke WC, eh tau-tau Unduk juga bilang, ‘kayanya Unduk juga mules deh…’ Halaaahhh! Akhirnya saya dan Unduk sepakat pingin balik dulu. Kita pamitan sama Mpiq, sepakat kalau Mpiq dibiarkan belanja aja dulu sepuasnya, supaya kita juga bisa ke WC sepuasnya, untuk kemudian saya dan Unduk balik lagi ke CIwalk utk jemput Mpiq.

Untungnya Mpiq menyerah tanpa syarat. Ya udah, saya dan Unduk langsung nyebrang jalan dan berjalan ke arah becak-becak yang mangkal di depan Warung Laos. Eh, belom sempat saya nawar becak, tiba-tiba kedengeran suara teriak, “Miw!!!” Ternyata si Mpiq. Sambil lari-lari dia tanya, “Naik becak ke warnet berapa?”. Saya pikir dia dengan baiknya tidak mau merepotkan saya, jadi saya balik tanya, “Emang lu kenapa? mau pulang sendiri nanti?”. Mpiq nyengir sambil bilang, “Ngga… kayanya gue mules juga!” Oalaaahhh…

Jadi, kalo kira-kira pada tanggal 26 Desember jam tiga sore  ada yg liat 2 becak racing di Jl. Sederhana, Bandung, nah itu kemungkinan besar becak saya dan Mpiq, yang lagi balapan dulu-duluan sampe di warnet, supaya dapet wc yang paling bagus di lantai dasar.

Ayo Maaangggg…. Kebuuuutttt!!!

(In case lu ga ngerti, ini adalah) Epilog

Yang menang dari racing “The Amazing Race, Episode : Toilet” barusan dinyatakan tidak ada. Karena saya memilih untuk pergi ke WC lantai 1 yang notabene kurang nyaman daripada kelamaan karena musti bunuh-bunuhan dulu sama Mpiq untuk rebutan WC (dan kemudian terjadilah hal-hal yang saya harap ga akan terjadi pada saya, baik di dunia nyata maupun dunia maya). Sementara -ternyata- Mpiq, begitu sampe warnet, mulesnya ilang.
Huuu… Cangkeul Deeee!!!

Comments (1)